Matan hadith
وَمَا سَبِيلُ اللَّهِ إِلا
مَنْ قُتِلَ ؟ مَنْ سَعَى عَلَى وَالِدَيْهِ فَفِي سَبِيلِ اللَّهِ، ومن سعى على
عياله ففي سبيل الله، وَمَنْ سَعَى مكاثِرًا فَفِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ.
Terjemahan
Memangnya jihad di jalan Allah itu hanya yang terbunuh (dalam perang)
saja? Siapa yang bekerja untuk menghidupi orang tuanya maka dia di jalan Allah,
siapa yang berkerja menghidupi keluarganya maka dia di jalan Allah, tapi siapa
yang bekerja untuk bermewah-mewahan (memperbanyak harta) maka dia di jalan
thaghut
Takhrij
HR. Al-Bazzar dalam musnadnya no. 9879, Baihaqi dalam Syuabul Iman no.
9892, Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya 6/196 daripada Abu Hurairah ra.
Dalam redaksi At-Thabarani dalam Mu’jam al-Awsath no. 3214, tapi dengan
redaksi akhirnya:
(وَمَنْ سَعَى عَلَى
نَفْسِهِ لِيُعِفَّهَا فَفِي سَبِيلِ اللهِ , وَمَنْ سَعَى عَلَى التَّكَاثُرِ
فَهُوَ فِي سَبِيلِ الشَّيْطَانِ)
“Siapa yang bekerja menghidupi dirinya sendiri agar terhormat (tidak
meminta-minta) maka dia di jalan Allah, dan siapa yang bekerja untuk memperbanyak
harta maka dia di jalan syaitan.”
No comments:
Post a Comment