Pada suatu hari, ketika Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i sedang duduk
mengajarkan tentang ilmu fikih kepada para sahabatnya, tiba-tiba pemimpin
penghuni neraka, iblis—laknatullahi ‘alaihi—ikut duduk bersama murid-muridnya
dalam wujud seorang laki-laki seperti mereka.
Dalam majlis itu iblis bertanya, “Apa pendapat Anda tentang Zat yang telah menciptakanku sebagaimana yang aku pilih sendiri dan memfungsikanku dalam hal yang aku pilih juga. Lalu setelah itu, jika Dia menghendaki, Dia akan memasukkan aku ke dalam surga dan jika menghendaki juga, Dia bisa memasukanku ke dalam neraka. Apakah dalam hal itu Dia telah berbuat adil atau zalim?”
Dengan cahaya dari Allah, Imam Syafi’i segera mengenali bahwa orang yang bertanya adalah iblis, beliau menjawab, “Wahai kamu, jika Dia menciptakanmu sebagaimana yang kamu maui, berarti Dia telah menzalimimu, namun jika Dia menciptakan kamu sebagaimana keinginan-Nya sendiri, maka Dia tidak ditanya tentang apa yang Dia lakukan.”
Lalu iblis terlaknat tersebut menjawab, “Wahai Syafi’i, demi Allah,
dengan pertanyaanku ini, aku telah mengeluarkan tujuh puluh ribu orang dari
tempat peribadahan.” Kemudian iblis itu pun menghilang sehingga lenyap dari
pandangan.
Takhrij
Dinukilkan oleh al-Ghazali dalam Kitab Mukasyafatul Qulub hal. 21 – 22
Kitab Mukasyafatul Qulub
Kitab Mukasyafatul Qulub merupakan salah satu kitab yang didakwa sebagai
karya Imam Al-Ghazali. Dan sebahagian menilai bahawa sebenarnya buku ini adalah
kegiatan plagiat yang di-atas-namakan kepada Imam Al-Ghazali.
Selain itu kitab Mukasyafatul Qulub sendiri termasuk kitab bermasalah,
kerana banyak berisi hadith-hadith palsu, tanpa sanad, dhaif dan khabar yang
tidak jelas lainnya.
Seorang ahli hadith Mesir, Abu ishaq Al-Huwaini pernah ditanya tentang
kitab ‘Araisul Majalis, Mukasyafatul Qulub…,
Beliau menjawab:
“Kitab-kitab itu tidak layak dipelajari kerana banyak memuatkan hadith yang tidak jelas.”(Fatwa Thariqah Islam no. 10264)
No comments:
Post a Comment