Thursday, 23 April 2020

Kisah Abu Dzar mencela saudara seiman



Matan hadith


عَنْ الْمَعْرُورِ بْنِ سُوَيْدٍ قَالَ مَرَرْنَا بِأَبِي ذَرٍّ بِالرَّبَذَةِ وَعَلَيْهِ بُرْدٌ وَعَلَى غُلَامِهِ مِثْلُهُ فَقُلْنَا يَا أَبَا ذَرٍّ لَوْ جَمَعْتَ بَيْنَهُمَا كَانَتْ حُلَّةً فَقَالَ إِنَّهُ كَانَ بَيْنِي وَبَيْنَ رَجُلٍ مِنْ إِخْوَانِي كَلَامٌ وَكَانَتْ أُمُّهُ أَعْجَمِيَّةً فَعَيَّرْتُهُ بِأُمِّهِ فَشَكَانِي إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَقِيتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا أَبَا ذَرٍّ إِنَّكَ امْرُؤٌ فِيكَ جَاهِلِيَّةٌ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ سَبَّ الرِّجَالَ سَبُّوا أَبَاهُ وَأُمَّهُ قَالَ يَا أَبَا ذَرٍّ إِنَّكَ امْرُؤٌ فِيكَ جَاهِلِيَّةٌ هُمْ إِخْوَانُكُمْ جَعَلَهُمْ اللَّهُ تَحْتَ أَيْدِيكُمْ فَأَطْعِمُوهُمْ مِمَّا تَأْكُلُونَ وَأَلْبِسُوهُمْ مِمَّا تَلْبَسُونَ وَلَا تُكَلِّفُوهُمْ مَا يَغْلِبُهُمْ فَإِنْ كَلَّفْتُمُوهُمْ فَأَعِينُوهُمْ


Terjemahan

Dari Al Ma'rur bin Suwaid dia berkata: "Kami pernah melewati Abu Dzar di Rabdzah, saat itu dia mengenakan kain burdah, sebagaimana dia, budaknya juga mengenakan pakaian yang sama. Kami lalu bertanya, "Wahai Abu Dzar, sekiranya kamu menggabungkan dua kain burdah itu, tentu akan menjadi pakaian yang lengkap." Kemudian dia berkata: "Dahulu aku pernah adu mulut dengan saudaraku (seiman), ibunya adalah orang 'Ajam (bukan Arab), lalu aku mengejek ibunya hingga ia pun mengadu kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Ketika aku berjumpa dengan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: "Wahai Abu Dzar, sungguh dalam dirimu masih terdapat sifat jahiliyah." Maka aku membantah: "Wahai Rasulullah, barangsiapa mencela laki-laki, maka mereka (para lelaki itu) akan mencela bapa dan ibunya." Beliau bersabda lagi: "Wahai Abu Dzar, sungguh dalam dirimu masih terdapat sifat Jahiliyah, mereka semua adalah saudara-saudaramu yang dijadikan Allah tunduk di bawah kekuasaanmu. Oleh karena itu, berilah mereka makan sebagaimana yang kamu makan, berilah mereka pakaian sebagaimana pakaian yang kamu kenakan, dan janganlah kamu membebani mereka di luar kemampuannya. Jika kamu memberikan beban kepada mereka, maka bantulah mereka."


Takhrij

HR. Bukhari no. 5703 dan Muslim no. 1661.



Kisahnya:

Sebahagian ulama ada meyebutkan lelaki tersebut adalah Bilal ra. Seperti yang diriwayatkan oleh Baihaqi dalam Syuabul Iman no. 4772 melalui jalur Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq 10/464. Akan tetapi sanad kisah menyebutkan nama Bilal ini dhaif. Kerana sanadnya terdapat perawi Abu Abdul Malik Ali bin Yazid al-Hani, yang dijarah berat para nuqqad seperti Daruquthni dan an-Nasaie, matruk. Imam Bukhari, munkarul hadith. Ibn Main, dhaif (https://www.alukah.net/sharia/0/53636/)



Kisah tersebut berbunyi lebih kurang begini:-


Dalam sebuah majlis sebelum Rasulullah Muhammad SAW hadir, beberapa sahabat tengah membincangkan sesuatu yang dianggap pelik. Hingga pada satu titik pembicaraan tertentu, berselisihlah dua sahabat Nabi, yakni Bilal ibn Rabah dan Abu Dzar Al-Ghiffari. "Aku mengusulkan agar demikian dan demikian," usul Abu Dzar kepada para sahabat. Mendengar gagasan Abu Dzar yang dinilai kurang tepat, Bilal pun menyela, "Tidak, wahai Abu Dzar. Hal itu kurang tepat menurutku." Abu Dzar tercengang, dengan tidak semena-mena ia berkata, "Beraninya kamu menyalahkanku, wahai lelaki berkulit hitam!." Rasa terkejut dan kecewa sambil berkecamuk di dada Bilal. Ia berdiri dan berkata, "Demi Allah, aku akan mengadukan ini kepada Rasulullah." Setelah meninggalkan majlis, kini Bilal menghadap Nabi. Ia berkata, "Wahai Rasulullah. Mahukah engkau mendengar apa yang telah dikatakan oleh Abu Dzar kepadaku?" Rasulullah SAW menjawab, "Apakah yang telah dikatakannya?" "Dia telah berkata begini dan begitu," kata Bilal, mengadu. Seketika itu wajah Nabi menunjukkan kekecewaan. Di sisi lain, Abu Dzar mulai dijalari rasa kegelisahan yang amat sangat. Ia khuatir Rasulullah murka. Tak membuang waktu lebih lama, ia segera bergegas menuju kediaman Nabi. "Wahai Abu Dzar, apakah kau memaki dia dengan menghina ibunya (keturunannya)? Rupanya masih ada dalam dirimu sifat Jahiliyah," ucap Rasul setibanya Abu Dzar yang datang mengucapkan salam. Terasa bagai tersambar petir, Abu Dzar longlai di hadapan Nabi. Ia menangis sejadi-jadinya. Kepada Rasul lantas ia memohon, "Wahai Rasulullah, mohonkan ampunan Allah SWT untukku. Beristighfarlah untukku." Setelah itu, Abu Dzar lekas menuju masjid mengejar Bilal yang lebih dulu pulang. Sepanjang perjalanan yang penuh rasa gelisah dan penyesalan, air mata Abu Dzar terus menerus berlinang. Setelah dijumpainya sahabat Bilal, ia langsung berkata seraya menghempaskan pipinya ke permukaan tanah, "Demi Allah, wahai Bilal. Aku tidak akan mengangkat pipiku, kecuali engkau menginjaknya dengan kakimu. Engkaulah orang yang mulia dan akulah yang hina."Menyaksikan permohonan Abu Dzar, Bilal tak tinggal diam. Ia merundukkan tubuh lantas menempelkan pipinya ke pipi Abu Dzar; tanda memaafkan. (Istamti' bi Hayatika t, 295-296).


Rujukan

Istamti' bi Hayatika, Dr. Muhammad Areefi. Edisi Terjemahan Indonesia, hal. 295-296. Qisthi Press: Jakarta


No comments:

Post a Comment

Kebiasaan waktu muda akan menjadi kebiasaan waktu tua, maka peliharalah adab dikala muda

  Berkata hukamak:   من شب على شئ شاب عليه   Barang siapa pada masa mudanya biasa berbuat atas sesuatu, nescaya pada masa tuanya ter...